Melihat Media Dalam Pembangunan - Suatu telaah politik kebudayaan

PENGHANTAR
Media berada dalam suatu proses yang dinamis, pada saat Amerika mengalami perang melawan resesi, ketika komunisme mengkooptasi Uni Soviet, dan Eropa Timur bergerak mendekati kapitalisme. Kondisi ini berjalan beriring sesuai dengan transformasi teknologi, regulasi dan society (masyarakat), ini secara signifikan mempengaruhi perubahan dunia media massa. Media massa seperti radio, televisi, koran dan majalah, berperan fundamental dalam perkembangan pembangunan.

FUNGSI MEDIA DALAM RUANG PUBLIK
Salah satu fungsi dari Mass media adalah mendidik publik untuk belajar tentang isu-isu dan ketika masyarakat telah mendapat informasi dari media, massa akan mereproduksi kembali informasi tersebut lewat opini publik. Opini public sangat diperlukan oleh public itu sendiri dan diperlukan oleh media dalam suatu hubungan timbal balik (resiprokal), dalam arti, media mendidik massa dan massa pun bisa mendidik media. Jelas ada peran media massa dalam ruang publik dan hubungan keduanya sangat berpengaruh/ signifikan. Menurut Amir Pilliang, opini publik merupakan hal yang sangat sentral dalam prinsip hegemoni untuk membentuk masyarakat madani (civil society).
Media menjamin kebebasan berbicara publik dan dijamin kebebasannya dalam melakukan perannya pada publik, dengan dijamin oleh Hak Asasi Manusia (The Universal Declaration of Human Rights).

ISSU MEDIA
Dalam media dikenal ada dua issu dominan yaitu Cultural Dominant dan Changing World Political Scene. Pada isu pertama yaitu, Dominasi Kultur mampu dilakukan oleh media massa. Proses dominasi kultur terjadi ketika proses kultur nasional tergesek oleh kultur yang muncul dari isi berita dan hiburan media yang diimpor dari negara lain, terutama Amerika atau negara industrialis yang lain. Tulisan Thomas Hanitzsch ketika menelaah tulisan R. Kristiawan dan Nuraini Juliastuti dalam Jurnal KUNCI sebagai berikut:
Gramsci menyimpulkan bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang, sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. Dalam konteks pembangunanisme, konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso), termasuk imperialisme struktural (Johan Galtung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller).
Beberapa negara yang masih berpihak pada budaya nasional dan local heritage dengan sangat terpaksa mengalami juga dominasi budaya global dari nilai-nilai Amerika (Western Minded), contoh yang paling masuk akal adalah pengaruh telenovela, reality show, variety show dan sebagainya. Ada impilkasi yang harus diterima adalah dominasi kultur pada ekonomi. Hampir 48% show di televise berasal dari produk luar dan sisanya 52% adalah produksi nasional.
Pada isu kedua terlihat adanya perubahan skenario politik dunia yang diusung produk media. Negara- negara berkembang dari barat mendominasi dan mengontrol negara berkembang lainnya dalam sistem international. Dalam sistem international seringkali skenario Amerika berhasil diterapkan lewat produk media kepada negara-negara berkembang, ada kecenderungan nilai-nilai budaya barat (Western Cultural Values) yang membombardir negara berkembang, maka Media Barat telah melakukan bentuk kolonialisme media (media colonialism). Untuk itu UNESCO sangat perhatian membela kaum negara berkembang/ negara dunia ketiga dan resolusinya terhadap persoalan ini dengan memberikan hak kepada kekuasaan nasional untuk memonitor berita dan hiburan dari media yang lintas batas (cross border). Jurnalistik perlu secara sadar mampu memfilter pengaruh media barat terhadap negara ketiga. Tetapi diluar dugaan, riset yang disponsori oleh kaum media barat, menyatakan bahwa negara ketiga sangat menerima dengan fair produk media barat yang sarat dengan filosofis“ kebebasan(freedom)“. Maka „Barat“ memantapkan diri untuk terus mempertahankan negara ketiga sebagai pasar dari produk medianya. Persoalannya pers di Barat lebih bebas dari pada di negara ketiga, di negara ketiga media dikuasai oleh government dan mereka eksis untuk mengusung persoalan yang mendukung proses pembangunan dalam negara sedang berkembang (The Third World) . Media dipandang sebagai sangat vital untuk meningkatkan kemampuan publik untuk terlibat dalam strategi pembangunan.
Disisi lain Media dianjurkan menyatakan demokrasi pemerintah dalam produk-produk medianya, sehingga mereka mengangkat tema-tema demokrasi, pemerintah yang bersih (good governance), perdamaian dan hak asasi manusia, kemiskinan, kriminal, dan isu-isu yang sedang panas di diperdebatkan dalam negara berkembang. Pemerintah melakukan kontrol kepada media, terutama dalam mengusung berita tentang pembangunan. Eksistensi sistem media nasional juga sangat dipengaruhi oleh sistem politik negara yang berlaku. Di Indonesia pun terjadi demikian, pihak yang berkuasa (pemerintah) cenderung menguasai media.

TEORI- TEORI MEDIA
Penelitian sejak abad 16 menyatakan ada relasi antara media dan pemerintah dan implikasinya. Ada empat pokok filosofis pelaksanaan media dalam buku yang dipublikasi tahun 1956 dengan judul Four Theories of The Press, beracu pada kebebasan dan kontrol yaitu Authoritarian, Liberalitarian, Communist dan Social Responsibility. Beberapa trend media saat ini masih dibawah rejim otoriter (Authoritarian Regime) , demokratisasi media dikontrol penuh oleh pemerintah/ government. Media tidak mencerminkan penghargaan pada kaum intelektual, ada kebijakan beracu pada kuasa (Ruling Power) yaitu pada pemerintah, pemerintah berhak mengatur isi berita yang mendukung program pemerintah.
Dalam telaah ideologis komunist-marxist, media dimiliki oleh orang-orang yang merupakan representasi dari penguasa/ kaum elit . Kaum elit media, biasanya bekerjasama dengan penguasa. Sehingga isi media merepresentasikan power penguasa atau partai tertentu yang sedang berkuasa, dan media bukan lagi presentasi dari unitas negara, tetapi merepresentasikan kepentingan komunitas tertentu saja.
Teori liberalitarian merupakan refleksi polar dari otoritarian. Bagi liberalitarian kedua sisi pihak didengarkan yaitu rakyat dan pemerintah. Asumsi dari liberalitarian adalah setiap manusia mampu (capable) dan rasional dalam mengambil keputusan. Maka implikasinya, media bebas control. Media memiliki kemampuan memberi kritik pada pemerintah dan bertanggung jawab pada proses demokrasi. Media dan public/ massa sama-sama memiliki bargaining power terhadap penguasa. Peran positif Mass Media dalam mengembangkan Demokrasi yaitu,
The right to the freedom of speech/expression, as well as the freedom of the press, as a corollary of this right, represents fundamental values of the modern pluralist democracy. Without them, many of the progresses achieved in the contemporary world couldn’t be imagined. That is why all these rights must be defended.
Social Responsibility Theory, merupakan modifikasi filosofis dari liberalitarian, bedanya hanya pada absolutisme kebebasan, dalam tanggung jawab social, kebebasannya terbatas dan disesuaikan untuk menyalurkan demokrasi pada publik sesuai dengan kebutuhan dan minat publik. Pemerintah yang berkuasa ikut andil dalam menentukan regulasi media.

MEDIA DAN PEMBANGUNAN
Dalam pembangunan dikenal ada Developmental Concept oleh Hacten yang mengindikasikan pada spectrum otoritarian. Dalam ideologinya pemerintah memobilisasi dan mengarahkan media pada tujuan-tujuan ekonomi dan pembangunan social (Social Development). Beberapa tujuannya adalah membentuk tercapainya integrasi politik, literacy, pemberdayaan ekonomi (economic self-sufficiency) dan eradication of disease. Perspektif seperti ini juga tampak bila kita mengamati kondisi Indonesia kita. Trend di Indonesia Kontrol dan kebebasan media mengikuti tren pluralisme yang diarahkan pada keutuhan politik, ekonomi dan pembangunan sosial bangsa sesuai tujuan nasional dan bergerak kearah modernisasi. Coba kita lihat program media televisi AFI, ada usaha rasionalitas ekonomi yang menggeser spirit pluralisme di Indonesia pada pemilihan akademia kota per kota atau daerah asal.
Bentuk produk media seperti ini masih harus dikritisi pada masa pembangunan sosial Indonesia, dimana melalui AFI, anak-anak muda mengenal gaya hidup bak selebritis, bahwa satu-satunya kekuatan ekonomi dan kepopuleran seolah-olah diusung dari AFI yang notabene adalah beranjak dari ideologi kapitalis. Konsep isi media yang tidak seimbang dalam kualitas dan responsibilitas terhadap pendidikan publik Indonesia, perlu ditelaah lebih lanjut.

BUDAYA:(MEDIA, PENDIDIKAN) menggeser TATANAN SOSIAL dalam frame PEMBANGUNAN
Beberapa impact media kita sadari mampu menggeser tatanan social dan masyarakat. Peran media yang lain sebagai pengusung jurnalisme damai (‘peace journalism’), namun sering kali justru media berperan dalam menyebarkan “kekerasan” (violance) terutama kekerasan kognisi. Coba telaah, ketika muncul persaingan privatisasi Media--dalam arti luas perusahaan/ pemilik media, perlu memperhatikan evaluasi diri dari misi dan visi media, jadi ada sensor pada diri sendiri (Self-Censorship). Bila peran media damai tidak berfungsi, maka kebebasan damai pada publik di wilayah publik semakin kecil. Walaupun media berkembang terus dalam kualitas teknik dan teknologi, tetap masih akan ada ancaman terhadap publik. Media ternyata sangat mampu menggeser budaya dan tatanan sosial. Ketika budaya media bisa dan mampu melakukan perubahan tatanan publik secara membabi buta maka masyarakat dan media, bisa jadi kehilangan budaya pendidikan dalam frame pembangunan.
Sesungguhnya Pembangunan masyarakat terbaca dalam isi media, yang di dalamnya memuat orientasi nilai-nilai lokal, nasional atau international. Dalam isi media dimuat juga agenda-agenda sosial, yang terbaca melalui dialog komunitas pada proses pembangunan ekonomi dan sosial. Yang patut jadi pertimbangan dalam media, kita perlu peka menyongsong adanya indikasi trend global village/ globalisasi pasar, disaat dominasi pemain yang mendominasi (baca: kapitalis) memainkan perkembangan dunia tanpa memperhitungkan relevansi budaya dan kondisi lokal/ tradisional, karena budaya lokal dan nasional dianggap tidak mampu bersaing di pasar. Sesungguhnya kesaktian nilai-nilai jenius lokal dan budaya nasional semakin menjadi variabel kekuatan dalam pembangunan Indonesia. Mengukur aspek kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan nasional, maka pengakuan bukan saja dinilai dari unsur kebudayaan, melainkan juga harus ada pengakuan eksistensi serta mampu mengakomodir kepentingan setiap komunitas adat dan budaya lokal dalam kancah kehidupan bangsa.
Walaupun persaingan media tidak mampu dilepaskan dari rasionalitas ekonomi kapitalis, yaitu media sebagai perusahaan harus membuat profit, media akan bisa tetap eksis bila visi dan misi pada spirit pembelajaran public dalam frame pembangunan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia masih membutuhkan media sebagai agen promosi pendidikan dan pembangunan dan mampu berfungsi sebagai agen pemenuhan gairah pembangunan (Development Agencies Desire) dalam wilayah makro. Dalam wilayah mikro, melalui marketing sosial dan pembelajaran dalam hiburan (edutainment), media berusaha merubah perilaku public dalam area: rencana keluarga (family planning), AIDS, kesehatan masyarakat (public health) and sanitasi. Media kerap kali menggunakan metode- metode hiburan (entertainment methods) seperti menggunakan lagu populer dan opera sabun, walaupun beberapa pendangan menyatakan bahwa ini manipulatif.
Bagaimanapun juga media massa masih tetap belum sepenuhnya mampu menyentuh wilayah pedesaan, karena masih ada dibawah pengaruh kekuasaan negara dan seringkali mengalami diseminasi informasi dari atas ke bawah (top-down manner). Maka itu trend dari dialog komunitas dan partisipasi dari bawah ke atas harus terus dipropagandakan dalam debat public.
Mekanisme-mekanisme media yang ditempuh bisa melalui perbincangan interaktif dalam program- program radio dalam komunitas radio dan Koran-koran. Program media bisa mengembangkan kerjasama dengan media privat dalam program berkelanjutan (Sustainability) dan terukur (accessibility) yang mengembangkan basis berisi pendidikan. Media diharapkan mampu membuka kesempatan- kesempatan bagi kelompok marginal di pedesaan, memuat opini dan suara publik desa yang mampu memonitor, mengapresiasi dan mengevaluasi media. Media bisa memilih fungsinya dan membantu agen-agen perubahan sosial dengan memberi support pada pengembangan organisasi sosial. Dalam perkembangan social masyarakat, pemerintah diharapkan membantu mempromosikan nilai- nilai pembelaan terhadap keseimbangan jurnalisme (press advocacy) dan spirit pluralis, kebebasan media (media freedom) dan masyarakat dikembangkan dalam relasi yang mutualis, itu sebabnya media harus berperan serta memberi suport dana untuk pembelaan pada kebebasan media dan kebebasan opini atau berpendapat dari bangsa Indonesia terutama media diharapkan mampu membela hak- hak kaum yang dimarginalkan.
Read more »

TELEVISION AND KIDS - For Life Style Magazine

Kak Nirlaksita, saya menemukan rubrik ini dari seorang teman. Nama saya Ibu Ketut Mandhia (35 tahun),yang akhir-akhir ini seringkali merasa kawatir dengan cerita-cerita televisi yang ditayangkan untuk anak-anak. Cerita anak penuh diwarnai kekerasan: peperangan, dendam, perlawanan, persaingan tidak sehat dan bahkan cerita yang tak masuk akal dalam dunia anak adalah cerita percintaan. Sedangkan disisi lain telah banyak beredar buku-buku cerita anak yang bervariasi dengan isi cerita juga beragam, sesuai dengan nilai yang ingin kami ajarkan untuk Mitha (3th), anak kami. Walau kami menyadari pentingnya bercerita, dan bahkan sudah banyak beredar buku cerita bagus, sayangnya, kami ini adalah orang sibuk. Kami berdua (saya dan suami) bekerja dan pulang kerja jam 18.00 bahkan sampai jam 19.00 WITA. Sehingga begitu pulang, yang ada hanya rasa lelah. Seakan “waktu” menelan keakraban kesempatan kami dengan anak. Kami sadar perlunya mendidik anak tetapi kami kebingungan bagaimana mengatasinya???

Baiklah Ibu Mandhia, kita akan bersama mulai menelaah persoalan keluarga ibu. Bila saya tidak salah, persoalan utama adalah adanya pengaruh buruk cerita yang ditayangkan oleh televisi terhadap perkembangan anak. Memang ketika televisi menyeruak dalam dunia kehidupan keluarga maka bisa dimungkinkan ada persaingan relasi anak dengan orangtua dan relasi anak dengan teknologi audio visual. Perkembangan teknologi di masa sekarang ini semakin ketat lebih menyita waktu anak untuk berelasi dengan televisi dan playstation (game-game) dibandingkan dengan relasi dengan orangtua dan bisa saja itu terjadi di antara Ibu dan Bapak sebagai orangtua Mitha. Mengapa televisi lebih piawai merayu anak dibanding orangtua mereka?
Jawabannya jelas, televisi lengkap menyiarkan cerita yang menarik dalam bentuk suara dan tontonan. Efek-efek teknologi kamera dan animasi memegang peranan penting dalam mendramatisasi cerita. Dramatisasi cerita sangat diperlukan oleh anak pada usia ini. Piaget seorang tokoh psikologi perkembangan menyatakan bahwa pada usia ini anak berusaha mengembangan awal konsep berpikirnya.

Perlu sangat disadari bagaimanapun juga, televisi sebagai produk budaya populer, sehebat apapun cerita yang mampu ditawarkan televisi, memang akan merangsang daya imajinasi anak, namun tidak akan mampu memberikan kualitas yang sama seperti relasi keterdekatan ( intimacy) yang didapatkan anak terhadap orangtuanya. Menurut Carl Rogers, daya imajinasi anak akan mengarahkan anak manjadi lebih kreatif. Relasi anak dengan orangtua akan menumbuhkan perasaan anak merasa dekat, merasa tenang dan merasa ada yang mencintai, dan ini tak mungkin diberikan oleh tokoh-tokoh dalam cerita televisi. Perasaan dicintai hanya mampu diberikan orangtua pada anak dan bukan peran-peran imajiner dalam cerita televisi. Perasaan dicintai akan mampu menstimulasi ide imajiner anak tetap realistis sekaligus fantastis dan tetap terjaga jalinan anak dengan lingkungan sosialnya, artinya perasaan anak tidak tercerabut dari wilayah tersebut.

Maka sudah selayaknya para orangtua mulai menentukan pilihannya. Orangtua adalah pribadi dewasa yang mampu membangun dan menyediakan lingkungan yang layak bagi anak untuk tumbuh berkembang terutama secara mental. Dukungan orangtua penting untuk perkembangan anak. Salah satunya adalah mengembangkan kebiasaan mendongeng, bisa dilakukan sebelum berangkat kantor atau menjelang saat tidur anak. Kebiasaan mendongeng sebagai bentuk keperdulian orangtua justru bisa membentuk suatu hubungan komunikasi dua arah antar anak orangtua. Di dalam mendongeng sesungguhnya lebih mudah bagi orangtua untuk memasukkan nilai yang ingin ditanamkan (internalisasi). Anak bisa diajak bersama bereksperimen untuk mengeksplorasi ide cerita, sehingga ide cerita, mampu lebih dikembangkan.

Tujuan untuk fokus pada perkembangan anak merupakan pilihan orangtua. Banyak keuntungan yang didapatkan dari hubungan antara anak dan orangtua melalui dongeng diantarannya sebagai berikut: pengembangan ide anak, pengembangan emosi anak (dari lontaran-lontaran tanggapan emosi terhadap isi cerita orang tua). Pendapat ini dikemukakan oleh Irwanto sebagai Ketua I Kajian dan Advokasi pada Komnas Perlindungan Anak, beliau menyarankan agar perlunya anak diajak bicara sejak kecil. Dongeng menstimulasi (mendorong) anak menyatakan pendapatnya. Tentu saja, kemudian apapun pendapat anak hendaknya dihargai. Pendapat anak tampak dalam cara penolakan atau penerimaan anak terhadap sesuatu, suka atau tidak suka anak pada sesuatu.
Penerimaan pendapat anak akan mensupport anak untuk membiasakan dari kecil memasuki situasi yang dialogis (komunikasi timbal balik). Suatu situasi yang dialogis tidak hanya muncul begitu saja tanpa kesengajaan untuk menatanya. Situasi dialogis muncul bila ada keterbukaan antar anak dan orangtua dan sebaliknya. Tukar pendapat bisa terjadi baik bila orangtua menyediakan diri untuk terbuka dan menerima segala pendapat anak. Setiap pendapat anak dan orangtua dibiasakan ada konsekwensi dan alasan yang tepat untuk menjelaskannya (otomatis dengan bahasa yang bisa dimengerti anak).

Kembali pada persoalan awal, pengaruh televisi pada anak dapat diatasi dengan dongeng pada anak (buku kan sudah banyak). Tradisi dongeng kembali dihidupkan sebagai bentuk perlawanan (counter wacana) Christopher Gleeson menyatakan bahwa orangtua harus menjadi pendogeng ulung dari ujung rambut sampai ke darah daging. Dunia anak adalah dunia imajinasi, itu sebab sebenarnya anak lebih tertarik pada cerita yang dramatisasinya terlihat jelas. Anak mulai belajar nilai-nilai kemanusiaan dari tokoh-tokoh cerita anak yang mampu didramatisasi dengan menarik. Ketertarikan anak mengaktifkan ekspresi menyatakan pendapat dan akan mengarahkan anak menjadi pribadi yang penuh keyakinan dan optimis, bahkan yang paling mengharukan, anak lebih cepat siap dan mampu menyesuaikan diri dalam perkembangan lingkungan sosialnya. Melalui dramatisasi cerita lisan (dongeng) maka orangtua mampu mengenal siapa anak mereka dari ide-ide anak dari tanggapanya terhadap cerita lisan. Di dalam proses dongeng, anak maupun orangtua bisa saling belajar untuk mengerti perasaan masing-masing, Ketajaman intuisi anak dan orangtua bisa muncul dari keterlibatan bersama.
Pilihan orangtua dari awal dengan melibatkan anak adalah pilihan yang tepat. Maka sebaiknya waktu bukan lagi menjadi salah satu sebab kesalahan atau kambing hitam setelah pengaruh tayangan televisi. Meluangkan sedikit waktu (30 menit) dan melakukan pilihan kegiatan yang berkualitas justru akan membangun kesempatan kehangatan untuk saling bertukar ide dalam relasi anak-orangtua.
Read more »

Tenageer in Television - Sebuah Studi Kasus AFI dalam Perpektif Kajian Budaya

“Jer run-tumurining tumus,winetu hing praja,
nalar wikan reh kasudarman, hayu rumiyeng badra,
nukti-nuting lagon, wirama natyeng kewuh, sangka-sangganing-rat.” (Prosa Samin)

Trend international pada tahun 1980an adalah runtuhnya monopoli televisi oleh pemerintah, ini terjadi juga di Indonesia (Sen & Hill,2000:129 dalam Mufid,2005:52). Dengan demikian siaran televisi swasta semakin mendapat peluang bisnis. Mulailah muncul televisi swasta pertama di Indonesia: RCTI. Tak lama kemudian RCTI disusul dengan TPI, SCTV, Indosiar, dan Anteve(Juliastuti,2002). Kemudian muncul generasi kedua yaitu Metro TV, TV 7,Trans TV, Lativi serta Global TV (Windriani,2005:1). Semakin banyak stasiun televisi, berarti semakin meningkatkan produksi acara-acara televisi. Siaran program televisi swasta pada awalnya merupakan persaingan bisnis informasi seperti berita. Perkembangan dalam siaran televisi memacu para programer televisi yang cerdik untuk mengalihkan acara berita sebagai cerita drama seperti feature di koran (Nugroho, 2005:113). Televisi swasta mulai menayangkan aktivitas publik seperti pertandingan, konser, diskusi, debat, demostrasi dimunculkan oleh media dalam bentuk virtualnya. Habermas, pakar komunikasi dalam relasinya dengan peran televisi publik menyebutkan, penyiaran publik berperan melakukan upaya pencerahan suatu bangsa. Diharapkan program televisi publik diukur dan diharapkan mampu menumbuhkan masyarakat sipil (civil society) yang sehat dari program informasi maupun hiburannya. Sementara program televisi sering menayangkan acara hiburan berupa sinetron yang mengumbar unsur kekerasan atau cara berpikir instan yang konsumtif (Nugroho,2005:123). Disisi lain televisi juga melahirkan siaran-siaran infotainment yang berisi berita-berita dari para artis dan selebritis Indonesia. Bagi Ashadi Siregar, media publik seharusnya mampu menjalankan fungsi kultural yang tidak lepas dari ruang publik yang ada.

Korporasi media publik diharapkan peranannya menjaga agar hak dan kepentingan warga terpenuhi (Kompas, 21 Desember 2006). Realitanya 5 tahun terakhir, stasiun televisi menunjukkan memiliki citra seragam dalam program tayangan, terutama sinetron. Bintang sinetron yang sama bisa bermain sinetron di berbagai judul di beberapa televisi swasta. Pertumbuhan manajemen produksi berkembang lebih cepat dari pada ide orisinal sumber daya kreatif, maka pembelian hak paten dari program luar mulai marak. Pembelian hak paten dari naskah dan pola manajemen mendukung peningkatan jumlah dan kualitas program untuk bertumbuh pesat. Seringkali program– program tersebut bercirikan: sensual, kekerasan, humor, mengaduk emosi dan isu, serta gaya hidup.

Gaya hidup terlihat sebagai konsekuensi dari semakin pesatnya industri hiburan dalam produk acara-acara infotainment. Semakin banyak berita hiburan tentang artis atau selebritis, semakin banyak anak-anak muda yang tertarik untuk bekerja dan memasuki wilayah-wilayah entertaintment sebagai artis atau selebritis. Bersama televisi swasta masyarakat diperkenalkan dengan berbagai jenis program baru berbentuk kuis, talk show, opera sabun (soap opera) hingga reality show.

Trend kini, muncul kontes bakat yang dirancang dalam Program reality show. Tayangan kontes kompetisi bakat menyanyi sebenarnya telah lama dikenal, contohnya acara ‘Bintang Radio dan Televisi’ (BRTV). Acara ini menjadi acara yang sangat populer untuk menghasilkan penyanyi berbakat. Program semacam reality show diawali oleh Amerika, Eropa, dan negara lainnya, kemudian merambah hingga ke Indonesia. Muncul acara Indonesian Idol (tayangan dari RCTI) yang diadaptasi dari Pop Idol dengan hak cipta milik Inggris. Kecenderungan ini diikuti munculnya program Dream Band (tayangan dari TV7), Kontes Dangdut Indonesia (tayangan dari TPI). Akademi Fantasi Indosiar adalah salah satu jenis acara yang cukup diperhitungkan. Acara juga berpola ajang adu bakat. Akademi Fantasi Indosiar adalah “talent search” yang diproduksi oleh televisi swasta Indosiar, berkembang sejak tahun 2003. Pihak media atau televisi swasta menganggap acara AFI sebagai ajang ”bergengsi”, bertujuan untuk mencari penyanyi berbakat yaitu anak muda. Nantinya akan banyak menghasilkan artis-artis baru yang bukan saja berbakat, namun juga memiliki ribuan bahkan jutaan penggemar di seantero Indonesia (Putrawan,2005:18).

Semakin banyak peluang yang disediakan televisi bagi anak muda untuk menjadi artis terkenal. Kecepatan citra, komunikasi dan informasi menggiring ke arah kehidupan yang serba segera , instan dan cepat. Anak muda dengan mudah dan secara cepat (instant) akan menjadi selebriti-selebriti atau bintang-bintang baru di ajang tarik suara, periklanan, dan sinetron. Popularitas dari identitas anak muda adalah komoditas bisnis bagi industri pertunjukan, utamanya televisi. Bagi televisi, penonton berarti pasar dan bagi media (televisi), pasar harus dimenangkan. Menurut Garin Nugroho, sudah saatnya media merayu massa. Akademi Fantasi Indosiar sebagai program reality show digunakan oleh media televisi untuk merayu publik.

Televisi sebagai media virtual melalui tayangan program mampu membentuk fantasi-fantasi baru tentang dunia kehidupan. Fantasi profesi selebritis mulai menjadi pilihan cita-cita hidup kaum muda. Kaum muda tertarik menjadi artis atau selebritis sebagai jalan menuju sukses, bahkan para orangtua secara sadar mendukung usaha ke arah tersebut. Ada perilaku pencapaian popularitas yang dikejar kalangan kaum muda. Popularitas sebagai suatu image mempengaruhi bintang atau selebriti (penyanyi) agar bisa diterima oleh pasar. Bila tidak populer, tidak bisa diterima pasar dan cenderung akan tersingkir. Pasar atau publik berubah menjadi dewan juri utama dalam industri hiburan, terutama industri rekaman. Jadi hanya yang ‘laku’ yang akan bertahan (survival of the sold-out).

Bantuan teknologi pada proses penciptaan, membuat citra yang dianggap nyata. Citra yang direpresentasikan pada publik oleh media membentuk suatu masyarakat imajiner (Benedict Anderson). Di sisi lain Piliang menyatakan:”pasar publik Indonesia yang sekarang sedang dalam kondisi ‘chaos’, artinya kebutuhan pasar tidak bisa diprediksi, karena pasar mengalami kesimpang-siuran kebutuhan. Menurut Pilliang, level kebutuhan bukan hanya berbicara persoalan needs, tetapi sudah bicara pada tahapan ‘hasrat’ (desire). Pasarlah sebagai alasan media untuk melakukan pertimbangan pendekatan dalam menentukan acara televisi. AFI adalah salah satu acara sebagai produk televisi yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar. AFI dikomoditaskan oleh televisi Indosiar, dan untuk diperlakukan pada pasar publik inilah yang diteliti oleh penulis sebagai suatu bentuk komodifikasi oleh televisi.

Sebagai program televisi, pemenang AFI bukan lagi ditentukan dewan juri tetapi lebih ditentukan oleh pasar. Kebiasaan standar, pemenang dipilih atau ditentukan berdasar kualitas kemampuan yang diperlombakan. Keunggulan peserta dimanifestasikan dengan nilai yang paling tinggi dari dewan juri. Namun realitas yang teramati dalam program AFI, fungsi dewan juri telah digantikan oleh penonton televisi. Penonton menilai dengan mengirimkan sms yang dikirim untuk akademia AFI yang difavoritkannya. Penonton memiliki hak bisa mengirimkan sms atau premium call sebanyak-banyaknya untuk mendukung akademia favoritnya. Sms (short messaging system) adalah bentuk percepatan teknologi digital. Ketika AFI memilih untuk menggunakan sms, artinya Indosiar telah melakukan kerjasama dengan produsen atau provider telekomunikasi. Ada bentuk korporasi media dalam AFI. Konsumsi pulsa menjadi kebutuhan baru penonton untuk dapat mengirimkan sms dan menelpon melalui premium call. Keputusan final terbesar untuk memilih pemenang jelas berada ditangan para penonton televisi. Dalam proses pemilihan AFI, diasumsikan ada komodifikasi sms dan premium call terhadap penonton yang dapat teramati.

Tayangan AFI menceritakan juga saat akademia mempromosikan dirinya untuk mendapat sms sebanyak-banyaknya dari daerah asalnya. Bahkan teramati adanya kecenderungan pada para akademia untuk menggunakan bahasa daerah ketika mempromosikan diri. AFI menayangkan secara jelas asal dari akademia. Diasumsikan daerah asal dikomodifikasi dalam AFI oleh Indosiar sebagai salah satu daya tarik pada publik untuk mendukung penyanyi dari daerah asalnya. Pernyataan dari Direktur Operasional Indosiar, Triandy Suryatman membawa pesan tentang problem kedaerahan yang sangat tinggi, karena AFI 2005 bermuatan sebelas wilayah kota (Sinar Harapan, 4 Juni 2005). Berita dari media cetak lain mengungkap tentang Bupati yang sampai rela memberi dukungan dana dan masyarakatnya untuk berlomba-lomba mendukung akademia asal daerah tersebut dalam pemilihan. Pemilihan melalui sms ini berfungsi untuk menyingkirkan para akademia yang bukan berasal dari daerah pemilih atau penonton. Realitas penyingkiran ini memunculkan asumsi kekawatiran tentang fanatisme kedaerahan. Darma Putra menyatakan dalam makalahnya, bahwa fanatisme sempit kedaerahan telah melebar ke dunia budaya pop (pop culture). Kemenangan bisa saja menimbulkan antipati dari daerah lain yang calonnya kalah (Putra,2006:4). Fanatisme kedaerahan bisa menjadi salah satu pertimbangan penonton ketika memberi sms. Model penyingkiran inilah yang dipilih dalam AFI sebagai bentukan atau produksi dari industri televisi.

Berbagai festival televisi dalam bentuk ajang pencarian bakat menghasilkan pemenang. Penyanyi yang menang dalam festival belum tentu sukses dalam industri rekaman. Industri televisi melalui AFI memilih pemenang yang sudah secara jelas dapat diterima oleh pasar. Pertimbangan agar calon bintang bisa diterima pasar nantinya, televisi secara aktif melibatkan penonton dalam konsep acaranya, yaitu kaum muda. Indosiar menetapkan syarat baru untuk calon akademia melalui pernyataan Produser Eksekutif AFI 2005, Siti Rozika:” karena mereka bukan sekedar jadi penyanyi tetapi harus menguasai akting sekaligus (Sinar Harapan,2003). Penjelasan ini sama dengan opini Didi Petet yang menjelaskan bahwa calon bintang tidak hanya disiapkan sebagai penyanyi, karenanya dimasukkan edukasi akting, dialog dan penguasaan peran (Sinar Harapan,2003). Kemampuan akademia AFI selain menyanyi turut menjadi pertimbangan komersial bagi Indosiar untuk memproduksi rekaman album nyayian sampai film. Film yang berupa drama musical bertajuk “Fantasi” dibintangi oleh 23 bintang AFI bersama artis senior dan 500 figuran yang diantaranya adalah finalis Indonesian Model (Astaga!com, 2006). Produk ini dijual pada pasar penonton penggemar AFI. Indosiar sebagai salah satu televisi swasta paling sukses meraih pasar peserta dan penonton di kalangan kaum muda melalui AFI .

AFI ditayangkan dari awal yaitu proses seleksi antar kota dengan acara “audisi”, dari kota-kota seluruh Indonesia. Semua kaum muda memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi peserta. Peminat dan penggemar AFI bukan hanya kaum muda tetapi ibu-ibu pun rela menghabiskan waktu dalam aktifitas kesehariannya untuk menonton acara audisi dan pemilihan bintang AFI. Indosiar menayangkan berita tentang acara Audisi AFI, digambarkan bagaimana peserta rela menunggu antrian selama berpuluh jam untuk mengikuti dan memenangkan babak pemilihan kota-kota. Dari pengamatan peneliti, para orangtua aktif menghantarkan anak-anak remajanya mengikuti audisi. Harapan para orangtua seolah benar-benar menjadi sejalan dengan harapan remajanya untuk bisa menjadi bintang atau selebritis baru secara instan. Kecepatan media menggiring pada ekstasi media, yaitu hanyutnya manusia dalam percepatan perubahan. Baudillard menyebutnya ekstasi komunikasi (ecstacy of communication). Setelah lulus audisi tiap kota, peserta yang dinyatakan terpilih akan dikarantina. Dalam karantina diberikan pendidikan olah vokal, ilmu musik, olah gerak (koreografi tari), olah watak (latihan teater atau acting), pendidikan kepribadian (latihan psikologis). Hari-hari dalam karantina juga dikemas dalam tayangan program AFI dalam acara yang disebut ‘Diary AFI’.

Acara ‘Diary AFI’ banyak mendapat dukungan iklan dari perusahaan pemasang iklan, dilihat dari seringnya iklan-iklan yang muncul, artinya spot iklan Indosiar laku. Tahun 2004 sampai bulan Mei, Majalah Trust mencatat bahwa urutan peraih iklan televisi masih dikuasai Indosiar, SCTV, dan RCTI yang masing-masing mengantongi kisaran Rp 721 miliar. (Mufid, 2005:57). Popularitas program ini memperoleh hasil komersial, dengan bukti tayangan banyaknya iklan-iklan yang dibintangi calon bintang. Cepat dan padatnya iklan-iklan yang secara terus-menerus menyerbu publik, memperlihatkan program ini cukup diminati oleh pelaku bisnis. Kebudayaan kapitalistik dicirikan oleh logika keharusan untuk bergerak, berproduksi, mengkonsumsi yang tanpa henti. Ada iklan permen coklat, mie instan, kopi instant, iklan kaset lagu-lagu AFI dan secara implisit ada promosi baju-baju dari perancang terkenal (yang digunakan oleh para akademia dalam keseharian dan pada acara show) dalam tontonan AFI.
Kebudayaan dikonstruksi sebagai suatu keharusan untuk berubah dari segi gaya, tontonan dan penampilan. Budaya dengan tempo yang dibuat semakin cepat disebut oleh Paul Virilio sebagai budaya dromologi. Realitas ini menggugah penulis sebagai peneliti untuk mengungkap persoalan ideologis di dalam AFI, dari awal audisi, babak penyisihan, sampai penentuan pemenang. Acara penentuan pemenang disebut minggu eliminasi. Calon bintang yang tereliminasi harus pulang. Saat kepulangan menorehkan kesedihan karena “disingkirkan” (dipilih) oleh pasar atau publik. Televisi Indosiar memfokuskan penayangan pada proses psikologis yang menyertai eliminasi. Tampak pada tayangan, akademia (calon bintang) AFI yang tidak dapat meneruskan pendidikan (tereliminasi) menjadi menangis, histeris (tayangan “close up”). Layar televisi berhasil menampilkan wajah-wajah penonton yang meneteskan air mata, bahkan tersedu-sedu melihat akademia favoritnya harus pulang. Respon malam eliminasi menampilkan ikatan emosional yang dalam dari penonton terhadap para akademia. Penulis berasumsi bahwa ada komodifikasi respon emosi pada calon bintang dan penonton oleh Indosiar lewat AFI..

Bahkan lewat AFI, presiden SBY dan Wiranto turut menyanyi dan dikomentari oleh dewan juri (Aryanugraha, 2005:10) di malam konser Grand Final AFI. Televisi digunakan sebagai ajang komunikasi artifisial dalam komunikasi politik. Muncul persoalan etika politik dalam komunikasi. Figur SBY sebagai citra politis bisa menyampaikan pesan-pesan politis yang menjadi chaos, simpang siur dan menimbulkan makna yang tidak jelas ketika seorang politikus seperti SBY menyanyi di malam eliminasi AFI, di malam emosi penonton dikomodifikasi.
Emosi penonton sangat mempengaruhi dirinya untuk mengganti pilihan chanel atau saluran televisi. Tidak memungkiri, dalam dunia persaingan acara dan saluran televisi, kontes bakat menghasilkan pasar yang menaikkan rating stasiun televisi. Apalagi Indosiar dikenal sebagai trend setter tayangan kontes bakat (Aryanugraha, 2005:10). Rating ditentukan oleh keterlibatan penonton. Pendekatan televisi dengan keterlibatan penonton tentunya akan menaikkan rating acara televisi. Rating AFI terus bertahan pada posisi yang tinggi. Status rating digunakan sebagai alasan tepat para pengiklan untuk menayangkan iklan produk. Program AFI padat dengan iklan, dimana iklan akan mampu meningkatkan penghasilan televisi. Sejak dahulu alasan ekonomi dan juga budaya menjadi bobot penting dalam mengkaji televisi dilihat dari produk program-programnya. Tayangan televisi merepresentasikan persoalan-persoalan penting secara ideologis tentang budaya dan identitas kultural. Pertimbangan ini menegaskan perlunya penulis untuk meneliti media yaitu televisi, baik dari model produksi, simbol-simbol yang dominan dan praktik ideologis dari respon publik dalam program AFI. Objek penelitian AFI diamati secara detail dari perilaku kaum muda, sms, rating, iklan, emosi penonton, perilaku politikus, daerah asal akademia.

Ketika membaca kaum muda dalam layar kaca, Akademi Fantasi Indosiar adalah salah sebuah studi kasus asyik akan kita bicarakan bersama. Remaja ‘ber’ dan ‘di’ fantasikan dalam layar kaca dalam suatu Akademi Fantasi.
Read more »